Tiap tahun aku selalu disuguhkan pilihan oleh Tuhan, dan seringnya pilihan itu di luar rencana (dan mimpiku) sendiri

Halo, Tiwi!

Terima kasih sudah repot-repot mau menulis dan meluncurkan beragam pertanyaan kepadaku. Dan, aku tersanjung bahwa, kamu dengan sangat jujur menyebutkan diri ‘fans’ terhadap diriku. Hahaha. Entah aku sendiri bingung, ngefans di bagian mana. Padahal ketemu aja bisa dihitung pakai jari.

Ohya!

Kabarku baik, alhamdulillah. Sebagai bukti kabarku baik, dalam kondisi bugar, dan dimalam menjelang pagi ini, aku telah menamatkan film ‘Penguins of Madagascar’. Dan, aku sedang melanjutkan kerjaan iseng aku nulis skrip buat komik dan naskah video pendek.

Betapa sehatnya aku, kan?

Nanyain aku betah apa ngga di Jakarta, nih? Hahaha. Aku sih ngga terlalu mikirin sebenarnya aku betah apa ngga di Jakarta. Yang pasti, aku sedang asik mengenali kota ini, walaupun kamu bilang tadi ada: macet, panas.. pun banjir. Bagiku, banyak hal baru yang aku tahu.

Aku bisa melihat para kaum hawa berduyun-duyun, dengan seragam ala buruh, mendatangi pabrik-pabrik di area Kawasan Industri Pulogadung. Jam 7 udah mulai rame. Ada yang beli nasi lauk dulu, ada yang beli jajanan dulu, ada juga yang langsung masuk pabrik.

Dan keramaian akan mulai senyap saat bunyi, seperti mirip terompet, dinyalakan oleh entah-pabrik-yang-mana.

Tentu tidak sekedar itu.

Aku bisa melihat ekspresi penuh kegelisahan, dari mereka, para pria-wanita dengan setelan jas kantor, saat hendak menaiki kereta di Stasiun Sudimara menuju Tanah Abang. SETIAP PAGI.

Dan, akan berulang pada saat sore hari, jam 5 – jam 8 malam. Di Stasiun Manggarai dan Stasiun Tanah Abang. Hanya saja ekspresi mereka kali ini berbeda.. ekspresi kelelahan.

Tentu, aku tidak mau menerka, apa yang ada di pikiran mereka saat itu.

Ada juga para pengamen cilik yang seharusnya belajar dan bobok manis di sebelah orang tuanya, silih berganti melantunkan satu dua buah lagu (dan sesekali diiringi bunyian kecrekan), sembari mengulurkan tangannya dan berujar “bang, recehnya..”.

Hal itu akan terjadi mulai jam 7 malam (atau bahkan sebelum jam 7). Para pengamen akan berganti setiap 15 menit sampai setengah jam sekali. Kamu bisa buktikan omonganku dengan nongkrong di Sevel, Rawamangun.

Dan, ya..

Aku bisa merasakan sensasi dipanggil oleh LELAKI-KEMAYU-DENGAN-SETELAN-DRESS jika melewati jalan masuk TU-GAS pada jam 12-an. Tentu aku tidak akan membayangkan apa yang terjadi jika aku menyambut hangat panggilan mereka.

..

Berkelana tak melulu mencari keindahan laiknya Purwokerto, kan?

—-

Ada hal yang kerap, atau seringkali, tidak sesuai keinginan. Sejak awal aku selalu mengamini ini. Aku percaya bahwa, rencana kita didengar oleh Yang Diatas, hanya saja Tuhan melengkapi (dan sedikit mengganti) rencana yang aku buat agar sedikit lebih berwarna.

Aku tak membahasakan bahwa menjalani hidup di Jakarta didasari karena tuntutan hidup. Bahwa, karena kerjaku di sini, mau tidak mau, aku harus menikmati ini. Bahwa, aku seperti tak ada pilihan untuk beralih untuk mencari jalan hidup yang lain.

Aku punya kuasa untuk memilih.

Aku berusaha memilih, untuk mengikuti cara Tuhan bermain.

Ohya, aku tidak merasa sudah banyak berkorban kok untuk hidup aku ini. Aku malah merasa, bahwa Tuhan terlalu banyak berkorban untuk aku.

—-

Cerita soal kerja, ya? Duh, sejujurnya aku malu, karena aku masih seumur balita yang cocok diberi susu Bebelac 3. Ibaratnya lagi, aku masih sebutir debu di tengah padang gurun. Pengalamanku secuil.

Tapi, aku akan bercerita sedikit.

Jika bertanya soal perasaanku menemukan dunia baru ini, jelas aku akan menjawab tegas: AKU SANGAT BAHAGIA. Bahagianya karena:

  • Aku diajak belajar untuk beradaptasi dengan atmosfir dunia kerja, terutama di dunia media televisi.
  • Aku diajak belajar hal-hal yang sama sekali BELUM PERNAH AKU COBA saat kuliah.
  • Aku diajak memahami, bagaimana cara kerja media. Terutama media dengan style SERBA-NEWS. Walaupun masih belum mendalam, sih.
  • Aku juga.. mm, catet, ini penting! Yaitu aku bisa ketemu presenter cantik tiap kerja. Oyeah!

….

Sebenernya masih banyak hal-hal membahagiakan lainnya. Belajar bermental baja, itu sudah pasti. Karena, pada saat tertentu, aku diharuskan, dan mau-tidak-mau, menghadapi situasi dimana tekanan datang dari segala penjuru.

Semisal, tekanan dari Produser, supaya ngedit video dengan cepat karena mau tayang dalam hitungan menit. Kalo mental lembek, mungkin Editor langsung cabut.

Masih nyambung dengan itu, aku diajak juga buat belajar tanggungjawab. Sudah tidak ada lagi namanya, dikasih kerjaan, kemudian kabur ngga dikerjain dengan beragam alasan. Sudah tidak ada lagi namanya, ngilang tanpa koordinasi dengan tim. Sudah tidak ada lagi namanya, lempar-lempar tanggungjawab.

Duh, jadi keinget jaman kuliah.

Ada jenis manusia, yang menjadikan peluang sebagai loncatan. Pada saat sekarang, aku bisa dikategorikan masuk jenis manusia macam ini.

Kalau kamu mau tau, dan kayaknya memang sudah tau, aku lebih ngebet sama yang namanya tulis-menulis. Ya, walaupun pada kenyataannya, aku tak serajin blogger-blogger di luaran sana. Dan skillnya pun masih setinggi gundukan tanah di pojokan beton Stasiun Klender.

Aku tidak tertarik sama sekali dengan dunia editing.

Tapi, pikirku waktu itu (saat interview panel), kenapa aku tidak mencobanya? Aku pikir itu tantangan!

Hm, apa menjadi Editor perlu sense?

Aku akan memberimu sedikit informasi. Di sini, seorang Supervisor kameraman, itu mulanya ternyata jebolan jurusan teknik tekstil. Editor? Tidak semuanya berasal dari seseorang, yang memang sejak awal berkuliah dan menekuni dunia editing.

Hasil gambar yang didapatkan dari seorang Supervisor Kameraman itu, ternyata sangat mengagumkan. Dan cukup diacungi jempol dari Produser di sini. Bahkan, ada Editor, yang mampu mengedit video sembari telponan dengan istrinya. Dan itu mampu di selesaikan dengan apik dan cepat.

Mengejutkan, ya?

Saat kuliah, aku juga mempercayai bahwa kerjaan akan terasa berat saat kita menilai diri kita tak ada sense sama sekali atas dunia yang terasa asing bagi kita. Aku juga pernah bertekad membuat sebuah karya desain grafis. Dan hasilnya..

Aku mangkir dari tekadku itu. Aku merasa.. ini bukan-aku-banget!

Tapi keyakinan itu roboh ketika aku melihat manusia-manusia yang ada di sekeliling aku sekarang. Mereka seolah jawaban baru, bahwa..

Sense itu juga kadang terbangun dimulai dari berani mencoba. Kemudian digeluti secara serius.

Dan..

Sebuah karya kemudian tercipta. Satu persatu. Dari seorang yang mulanya tak percaya bahwa ternyata dia bisa melakukannya.

Kendala-kendala semacam bangun pagi sih wajar. Hahaha. Tapi untuk minggu-minggu ini, kendala bangun pagi ngga masalah. Karena aku masuk sore. Oye!

Tapi memang, kendala sebagai anak-ingusan-yang-baru-ngerasain-jadi-buruh itu ada aja. Seperti menghadapi software error. Padahal lagi dibutuhin segera banget. Atau, ngga bebas pake sendal dan kolor. Padahal aku manusia pecinta sendal dan kolor.

Sejauh ini, kendala terberatku di dunia kerja cuma makan, sih. Karena cari makanan yang murah dan enak butuh penelusuran dan observasi yang mendalam di lapangan.

Kalau kata Sekar Seta, Editor Specialist yang pernah ngediriin dua stasiun tv lokal tapi berhenti di tengah jalan, berujar:

“Kalo kamu ngga dapet kendala, kamu ngga bakal belajar”

Ya gitu deh intinya. Maap yak ceritanya secuil dan agak kemana-mana.

Terima kasih udah mau ngedoain aku di sini. Aku minta doa supaya aku ngga sekedar kerasan kerjanya, tapi bisa terus naik level setiap waktu. Sampai ‘mimpi-mimpi besar’ aku kesampean. Hehe.

Semoga kamu juga lancar ya. Nikmatin aja kuliahnya, dan..

Doain aku bekerja tidak melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran!

???????????????????????????????

Terus berkarya dan bikin banyak yang betah di Himakom ya!

Agus Maulana,

04.56 subuh, 3 Februari 2015.

Rawa Gelam, Kawasan Industri Pulogadung.

Leave a Reply